Kamis, 11 April 2013

PUISI: USANG YANG TAK PERNAH KELAM


Di dapur itu , nyanyian nostalgia terdengar merdu
Selendang tua beradu dengan tungku batu
Helai demi helai uban di kepala cerminkan lawas sudah arungi waktu
Telah sekian lama duduk meniup abu_nafas tak sekuat dulu

Ah…mata itu, ter-relakan berlinang hanya sebab sang anak tak mampu tersenyum sebelum pejam
Tangan yang tak pernah tua, walau waktu begitu tajam
Di balik keriput kulitnya, tulang-tulang  tak lagi segan tunjukkan memori keperkasaan
Terkadang batuk mengiringi lantunan nyanyi-nya, menundukdiamkan


Api semakin dewasa, tiupan lembut telah purna
Membuat dapur itu merasa hangat dan menandakan usai tugasnya yang tak lagi belia
Nampak langkah bergegas berkejaran dengan senja
Menuju tempat istimewa yang penuh kan kamboja

Ya… waktu paling dinanti setelah terjaga
Menabur bunga dan panjatkan doa
Di depan rumah baru suaminya yang mati setahun kemarin
Sampai senja menjadi kelam, ia pulang dan menanti esok di sini lagi

 (Azwar A., 10 April 2013)

Rabu, 10 April 2013

PUISI: GHAZIAKU

Ghazia cantik..bumi memanggil dewasamu, langit menunggu munajatmu
Si miskin menanti sentuhan damaimu, si kaya menyambut nasehat berbagimu
Ghazia putriku..dengar mereka yg sedih durjana, tunjukan bagaimana cara si bunda tersenyum pada anaknya
Dengar mereka yg tak sadar akan dijajah, bawakan secangkir kebebasan dan sepiring khasanah.
Ghaziaku..aku wariskan dirimu untuk kehidupan

(Azwar A, 4 Januari 2013)

PUISI: PADA POHON RESAH

Daun cinta terjatuh
Tinggalkan buah ego yang tersenyum lebar

(Azwar A, 14 Februari 2013)

Jumat, 21 Desember 2012

PUISI: PERMATA YANG HILANG















Sehelai dawai bernyanyi diatas panggung kosong
Gelap pengap menghantui
Selembar kertas melukis indahnya serakan sampah
Usang terkikis siang malam

Sendiri dalam ramai
Tersenyum dalam badai
Bermimpi dalam kepunahan

Ada tangan sesaat membelai
Bagai musafir menyapa, bertamu dan berlalu
Tak cukup seribu tahun

Dimana dirimu, kapan kita bercumbu wahai batu?
Kau telah menikmati kebekuanmu
Berkilau manjakan indahmu
Membisu nyamankan misterimu

Engkau permata yang hilang
Rinduan para pecinta
Kilauan mahkota para raja
Imajinasi para pujangga

(Azwar Anas, 22 Juni 2010)

Sabtu, 10 Desember 2011

Puisi: Pekikan Tuk Presidenku

lihat bola mataku
akan kamu temukan pemberontakan
pegang lenganku
di sana sejuta laskar bergelegar
presiden terbata-bata bersua
bau tubuhku kan bakar pecinya
dengar teriakku
sebuah pekikan kemuakan budak-budak mulia yang terhinakan

(Azwar A, 10 Desember 2011)

Jumat, 25 November 2011

Puisi: Bait Sang Anak
















dia tlah datang..
membawa tajamnya pandang
lebih tajam dari pedang
kedzaliman mulai meradang
dia datang tuk menantang

damai bagai air mengalir
syahdu bagai lantunan syair
namamu masyhur tiada akhir
langkahmu secepat petir
membawa nama Tuhanmu hingga akhir

(Azwar Anas, 25 Nopember 2011)

Rabu, 02 November 2011

Puisi: KreasiMu

Jika tanganMu berkreasi,
akupun akan ikuti,
di bukit ego aku berdiri,
bangun realisasi kehidupan yang tak pernah mati

Niscaya semuanya adalah keniscayaan


(Azwar, 31 Oktober 2011)